Minggu, 20 Oktober 2013

Kalut, Tremor, Dua Cangkir Kopi, Tremor Lanjutan

Ini cerita hari ini. Bermula ketika saya memesan secangkir kopi tubruk di siang hari. Pesanan saya mengundang semacam emosi dari orang-orang yang duduk di sekitar saya. Heran.Mereka melongo dan berdecak melihat satu strip di kolom pemesanan kopi tubruk itu. Dan itu atas nama saya, seorang wanita muda berusia 18 tahun yang dari wajahnya tidak terlihat sedikit pun wajah-wajah pecandu kopi. 

Saya ini memang bukan pecandu. Bukan pula maniak. Hanya suka dengan kata sangat sebelumnya.

Saya haus. Dan saya rasa satu cangkir itu cukup, apalagi ditambah beberapa bongkah, pecah, apa sih nyebutnya?, es batu. Segar dan cukup melegakan. Aneh? Biarkan ...

Perkiraan saya tidak meleset, untuk beberapa putaran jarum detik. Sampai ...

"Anak ... call nih!"

Aghr!!!! Kalut. Bulir-bulir dingin dari salah satu jaringan di dalam kulit saya berjejalan keluar.  Berjejalan, berdesak-desakan, saling memaksa keluar. Saya melemas tidak kuat.

Lalu... tremor. Jari-jari mulai bergerak tak terkendali. Bergetar, melemas, bergetar, melemas. 

Saya butuh sesuatu. Sesuatu. Sesuatu.

Kopi tubruk+es batu-Lagi

Secangkir lagi. Total menjadi dua cangkir. 

"glek-glek-glek..." Cepat, Habis.

saya salah. Tremor masih berlanjut. Ini tremor lanjutan. Dari kejauhan saya mendengar suara itu berbicara dan seorang menyebut satu kata kunci penyebab tremor saya.

Popular Posts

Search This Blog