Senin, 14 Oktober 2013

Kacamata Usang




www.wallsfeed.co
Bukan milik saya. Tergeletak begitu saja di meja ruang tamu. Sudah lama, mungkin setahun, setahun setengah, atau bahkan dua tahun. Tidak ada yang berminat untuk memindahnya. Sudah, di situ saja. Hingga berdebu. Saya pun membiarkannya begitu. Sama tak berminatnya dengan orang lain.

Tapi itu dulu, dan kemarin, dan tadi. Barusaja, kilap kaca dalam bingkai itu menggoda saya untuk memerhatikannya. Saya mendekat, kian mendekat. Tepat di samping meja tamu tempat kacamata itu didiamkan sedemikian lamanya. Saya tekuk lutut saya hingga pandangan saya terhadap kacamata itu begitu dekat. Ada bulir-bulir semacam pasir menutupi kilapnya. Ya ia memang mengkilap, tapi seharusnya lebih dari ini.

Sudah kakiku dan mataku yang tergoda, kini tanganku tak bisa dikendalikan, ia terulur dan meraih kacamata itu. Jari-jari mulai meraba. Bingkainya full-frame, terbuat dari plastik nylon dengan campuran gliamides yang diberi warna coklat gelap nyaris hitam. Klasik dan tegas. Siapa pemiliknya?

Aku mencoba mengingat. Pemiliknya pasti kutu buku, mengingat lensa kaca mata ini tebal. Siapa kutu buku yang pernah duduk di sini? Dan untuk apa? Di ruang ini tak ada apapun yang bisa dibaca selain kalender. Ah, mungkin orang itu membawa bacaannya sendiri dan duduk di sini untuk membacanya. Kemudian ia lelah dan pergi. Tapi siapa?

Kureka, kuingat satu persatu orang yang pernah singgah. Selama rumah ini didirikan dan berperabotan tak banyak orang yang, kuingat, pernah datang kemari. Dan di sini hanya ada aku dan kedua orang tuaku. Mungkin milik seorang tamu? Ah iya, mungkin. Tamu yang kelelahan dan lupa bahwa meletakkan kacamata itu di sini dan pergi begitu saja. Ah iya mungkin itu salah satu tamu dari segelintir yang datang dan tak kuingat. Ya,mungkin tamu.

Popular Posts

Search This Blog