Rabu, 16 Oktober 2013

Hujan Pertama

Sesiang aku terpanggang di jalanan Jogja-Wonosari. Mukaku memerah, kaki tanganku menghitam, gosong kata orang. Keringatku bercucuran. Sudah nyaris sama aku dengan yang ditusuk-tusuk kemarin sore. Seonggok daging berbalur cuka asam. Biarlah, ini namanya nikmat Tuhan, bukan?

Dan semakin sore semakin panas. Bukan panas yang menyengat seperti siang tadi. Ini panas yang menyesakkan. Panas yang membuat seorang anak manusia membenci semacam ciptaan manusia yang bernama "baju". Harareudang pisaaan! kata orang sunda. Sumuk e pol! kata orang jawa. Saya orang Indonesia berkata "Saya merasa sangat gerah"

Demi menghilangkan rasa tidak nyaman itu, saya buka jendela kamar lebar-lebar. Dan wow! Sewujud makhluk Tuhan yang indah menghampiri saya. Senja jingga namanya. Hasil dari usaha tuan mendung mencegah surya menebar pesonanya kepada bumi. Cantik cenderung indah condong ke menawan. Saya terdiam untuk beberapa waktu. memandangi keindahan tersebut. Cukup lama dan mengabaikan rasa tidak nyaman, atau hareudang, atau sumuk, atau gerah itu.

Masih terdiam ...
Masih memandangi ...
masih mengagumi ...

Dan satu titik kecil mengubah segalanya. Satu titik di punggung tangan yang bersandar di pagar teras rumah. Satu titik yang diikuti ribuan titik lainnya. Satu titik yang mengawali suara gemuruh dari segerombolan pasukan penghantam bumi.

"Hujan!" 
"Iya, Hujan!"
"Hujaaaaaaaaaaaan!"
"Jemuran!!"
"Ah iya jemuran!"
"Jemuraaaaaaaaaan!"

Ribut. Indahku pecah, buyar, ambyar. Aku ikut berlali. Memunguti yang bisa dan harus diselamatkan. Lalu menyelamatkan tubuhku sendiri.

"Ini hujan pertama"
"Iya, ini hujan pertama"
"Hujan pertamaaaaa!"

...

"Catat tanggalnya!"
"Hari ini tanggal 16 Oktober 2013. Hujan deras pertama musim ini"

Popular Posts

Search This Blog